Sang Peniru
Oleh: Rizka Amaliah
Adel berjongkok sambil memperhatikan beberapa ekor merpati yang beterbangan di halaman sekolah. Ya! Di sekolah Adel ada sebuah pagupon berpenghuni puluhan ekor merpati. Saat jam istirahat, anak-anak bisa bebas memberi makan atau bermain dengan para merpati itu.
Si centil Adel mulai mengerucutkan bibirnya dan menirukan suara seekor merpati yang tengah berjalan di tanah.
“Kruuk! Kruuk! Kruuk!” Rupanya suara yang dihasilkan Adel sama persis dengan si merpati.
Bocah itu memang paling gemar menirukan suara binatang. Beberapa waktu lalu, ia bahkan berlatih meniru suara kucing yang sedang bertengkar. Ayah Adel sampai harus keluar rumah, mencari sumber suara untuk melerai kucing-kucing yang memang sering bertengkar di halaman. Namun, tentu saja usaha sang ayah sia-sia. Sebab tak ada seekor kucing pun di luar. Adel hanya cekikikan saat melihat ayahnya celingukan.
“Kruuk! Kruuk! Kruuk!”
Gadis cilik itu kembali menirukan suara burung-burung merpati. Raut wajahnya berubah riang. Ia mengangkat alis dan salah satu sudut bibirnya. Sepertinya ada sesuatu yang sedang ia rencanakan.
“Grr! Guk! Guk! Guk!”
Suara Adel yang mirip amukan anjing membuat sekumpulan anak yang tengah bermain bekel bubar. Anak-anak itu menggerutu karena biji bekel mereka berantakan. Salah seorang di antara mereka menangis kaena terkejut.
“Del! Usil banget, sih!” Alisa ketus memelototi Adel.
“Kirain ada anjing sungguhan, lho!” Sahut Milo.
“Hehe! Maaf! Bercanda!”
Adel menyeringai. Ia mengacungkan telunjuk dan jari tengahnya untuk meminta maaf. Tapi, Adel tak berani mendekat. Bocah itu takut kawan-kawannya akan memukul atau menjewer telinganya untuk membalas dendam. Ia pun segera angkat kaki dan bersembunyi di kelas.
Meski sudah membuat kesal teman-temannya, Adel merasa bahwa meniru suara-suara binatang itu menyenangkan. Pikiran usil kembali muncul di benaknya. Kali ini, ia ingin mengerjai Roni, kawan karibnya di kelas VA.
Usai jam istirahat, sesaat sebelum pelajaran dimulai, anak-anak kelas VA sudah mulai duduk di kursi masing-masing. Hanya tersisa beberapa siswa di halaman yang juga bersiap-siap untuk masuk ke kelas. Riuh suara anak-anak yang berbincang-bincang terdengar hingga ke teras kelas.
Adel mengendap-endap ke arah jendela kelas VA yang terbuka lebar. Kepalanya melongok ke dalam kelas. Ia menahan tawa, lalu menarik napas dalam-dalam.
“Auu…! Guk! Guk! Guk!” Adel meniru lolongan serigala dengan sangat nyaring.
Suasana kelas VA mendadak senyap. Riuh perbincangan anak-anak pun berhenti. Salah seorang siswa berjalan ke arah jendela. Namun, ia tak melihat siapa-siapa di sana. Adel bersembunyi di samping tong sampah sembari menutup mulutnya dengan telapak tangan.
Saat suasana tak lagi hening, Adel kembali ke sudut jendela. Ia menirukan suara kucing-kucing yang bertengkar. Kali ini, Roni yang mengecek jendela. Ia juga tak menemukan siapa-siapa di sana. Anak-anak lain mulai berspekulasi.
“Jangan-jangan itu tadi suara hantu?” Fatih yang penakut mulai mengkhayal yang tidak-tidak.
“Mana ada hantu siang-siang begini?” Balas Roni.
“Buktinya ada suara serigala, eh.. anjing dan kucing, tapi di luar tidak ada apa-apa.” Lanjut Fatih.
Roni juga berpikir bahwa kejadian ini aneh. Tapi, ia yakin bahwa ini semua tak ada hubungannya dengan hantu.
“Pasti ada yang iseng!” Tebak Roni.
Bocah berambut hitam pekat itu kemudian memberi aba-aba pada rekan-rekan sekelasnya untuk diam. Ia juga memastikan teman-temannya untuk memfokuskan pandangan pada jendela. Sementara itu, Roni bersembunyi di bawah jendela untuk menangkap basah siapa sebenarnya yang sedang mengerjai mereka.
“Grr! Meong! M..!”
Belum sempat Adel merampungkan keisengannya, jari-jari Roni sudah mendarat di telinganya.
“Jadi ini hantu kucingnya?”
“Aw! Ampun, Ron! Ampun! Hehe! Aku Cuma bercanda.”
“Bercanda! Bercanda! Iseng sekali sih, kamu ini!”
Anak-anak kelas VA tertawa melihat Adel dijewer oleh Roni. Rupanya peristiwa itu dilihat oleh Bu Ninik, guru mata pelajaran Bahasa Indonesia. Bu Ninik hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Adel. Beliau menyuruh Adel untuk segera kembali ke kelasnya dan mengikuti pelajaran sebagaimana mestinya.
Usai mengajar di kelas VA, Bu Ninik memanggil Adel ke ruang guru. Keringat dingin mengucur di pelipis dan tengkuk Adel. Ia yakin, Bu Ninik pasti akan menghukumnya kali ini.
“Habislah aku!” Lenguhnya.
“Adel!” Bu Ninik menyapanya dengan lembut.
“Iya, Bu!”
“Adel suka menirukan suara binatang, ya?”
“Hehe! Iya, Bu! Betul!” Jawab Adel malu-malu.
“Hmm! Hebat, lho! Bu Ninik saja tidak bisa meniru suara binatang persis seperti aslinya. Mau nggak kalau Adel ibu minta membantu dubbing untuk pementasan drama kegiatan lepas pisah?”
“Dubbing itu apa, Bu?”
“Dubbing itu mengisi suara. Jadi, Adel bisa membantu mengisi suara atau jadi dubber untuk tokoh-tokoh binatang yang akan diperankan teman-teman kelas VI.”
“Wah! Keren sekali, Bu! Beneran boleh?” Adel girang sekali mendengar tawaran ini.
“Boleh, dong! Tapi dengan satu syarat!”
“Syarat apa, Bu?”
“Adel nggak boleh lagi ngerjain teman-teman dengan meniru suara-suara binatang. Gimana? Nggak sulit, kan?”
“Siap, Bu! Beres! Adel janji!”
Sejak saat itu, Adel tak pernah lagi megerjai teman-temannya dengan meniru suara binatang. Hampir setiap hari, ia berlatih meniru suara-suara binatang yang menjadi tokoh dalam drama kegiatan lepas pisah. Ia menjadi makin mahir meniru suara binatang di bawah bimbingan Bu Ninik.
Kini, Adel tak hanya bisa meniru suara kucing, burung, serigala, dan anjing. Adel juga mahir meniru suara kuda, babi, kerbau, dan kambing. Bocah itu sangat menikmati masa-masa latihan dubbing bersama Bu Ninik.
Saat pementasan berlangsung, suara Adel membuat drama yang dimainkan anak-anak kelas VI menjadi tampak nyata. Semua orang bertepuk tangan setelah pementasan usai. Untuk usaha kerasnya, Adel mendapat hadiah sebuah jam weker dengan suara binatang dari Bu Ninik.
“Ini baru keren!” Roni menepuk pundak Adel sambil mengacungkan jempolnya.
