Wudu Atika

Wudu Atika
(Cerpen Spesial Ramadan)
Oleh: Rizka Amaliah

Menjelang Isya, anak-anak sudah berkerumun di belakang musala. Di sana, ada aliran air dari pipa bambu. Sebelum salat, semua jemaah biasa berwudu di kucuran air yang tak pernah putus itu.

“Atika di sini aja! Kakak wudu dulu!”

“Atika nggak boleh wudu?”

“Nanti kalau sudah agak besar, boleh.”

“Bukannya Atika sudah besar? Sudah mau TK.”

“Iya! Nanti kalau sudah TK boleh, deh!” Vita membujuk adiknya.

Meki berat, gadis yang usianya belum genap lima tahun itu mengangguk. Ia menatap sang kakak dan anak-anak lain yang sedang antre untuk berwudu.

Beberapa menit kemudian, Atika masih bergeming. Ia diam di pintu belakang dan membuat beberapa anak kesulitan untuk masuk ke surau.

“Tik! Jangan di pintu, dong!” Bad menghardik.

Atika mengerucutkan bibirnya. Ia menggeser tubuhnya ke arah luar.

“Kalau mau ke luar, sekalian! Kalau mau masuk, masuk aja! Jangan ngalangi jalan.” Bad menceramahi bocah yang sudah mulai merapatkan kedua alisnya.

“Iya! Iya!” jawabnya seraya bergerak ke arah luar.

“Gitu, dong! Biar nggak kena injak kakimu.”

Atika membuang muka. Ia tak mau berdebat dengan Bad, karena ada hal yang lebih penting dari itu.

Gadis yang sudah mengenakan atasan mukena itu kembali berfokus pada anak-anak yang sedang berwudu. Kali ini giliran kakaknya. Vita menggulung lengan bajunya hingga ke siku. Celananya juga. Ia gulung hingga ke bawah lutut. Kakak Atika itu lalu berkumur. Setelah itu, mulutnya komat kamit. Kemudian, ia menampung air di telapak tangan dan membasuh muka, tangan, sebagian rambut, telinga, hingga kaki. Banyak sekali yang dilakukan. Atika tak bisa mengingat semuanya.

Usai berwudu, Vita menghampiri adiknya.

“Lho! Kok belum masuk?”

“Nunggu, Mbak!”

“Oh! Ayo masuk!”

Atika memperhatikan wajah kakaknya. Wajah itu terlihat segar dan bersinar. Ada tetes-tetes air yang menggantung di dagunya. Atika sungguh menginginkan dirinya seperti itu, segar dan bersinar.

Anak-anak duduk rapi setelah mengenakan mukena atau peci. Anak laki-laki duduk di barisan depan dan anak perempuan di barisan belakang. Pak No, guru ngaji mereka, memimpin pembacaan niat salat tarawih. Seluruh jemaah yang rata-rata masih anak-anak mengikuti dengan lantang.  

Setelah dua rakaat pertama selesai, anak-anak kembali berdiri untuk melanjutkan tarawih. Pak No membaca surat Fatihah dengan nyaring. Semua anak berfokus pada bacaan itu. Namun, tidak ada satu pun yang tahu bahwa ada seorang jemaah kecil yang menghilang.

“Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh..” Vita menoleh ke kanan lalu ke kiri.

Ia terhenyak. Atika sudah tidak ada di sisinya.

“Mungkin dia pipis,” gumam Vita sambil celingukan.

Imam sudah bangkit dan ber-takbiratul ihram. Vita memulai kembali salat tarawihnya. Tapi, kali ini hatinya tak tenang. Meski Atika sudah bisa pipis sendiri, ada perasaan mengganjal di hatinya.

Setelah kembali mengucapkan salam penutup salat, Vita melepas mukenanya.

“Mau ke mana?” tanya Oo’.

“Ke jeding bentar.”

Langkahnya agak tergesa-gesa keluar dari pintu surau.

“Astaghfirullah!” Vita memekik.

Ia langsung menutup mulutnya agar tak mengganggu jemaah yang sedang khusyuk salat tarawih.

“Atika! Kamu ngapain?”

Bocah yang sudah seperti kucing tercebur kali itu hanya nyengir. Ia tampak sangat bahagia. Seluruh pakaiannya basah, terutama bagian depan.

“Atika sudah bersinar belum, Kak?”

“Bersinar apanya?” Vita menarik lengan adiknya, menjauh dari kucuran air.

“Mukanyalah, Mbak!”

“Hmm! Mukamu bersinar. Pasti habis ini badanmu anget.”

“Kenapa?”

“Ngompol!”

Bukannya kesal atau takut, Atika malah tertawa terbahak-bahak. Vita terpaksa membawanya pulang dan menghentikan tarawihnya.

“Atika…! Atika…!”

Keterangan:

Imam: Pemimpin salat

Takbiratul Ihram: Takbir pertama untuk memulai salat

Jeding: Kamar mandi

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *