Pelayaran Perdana Hamdan

Pelayaran Perdana Hamdan
(Cerpen Spesial Ramadan-Disalin dari Buku Kumpulan Cerpen Kaki-Kaki Kecil Ramadan
)
Oleh: Rizka Amaliah

Hari kedua liburan awal puasa ini membuat Hamdan senang bukan kepalang. Umi dan abah mengajak Hamdan berlibur ke rumah nenek di pulau Madura. Keluarga Hamdan biasanya berkunjung ke Madura setelah menunaikan salat Idulfitri. Sebab, umi tidak pernah mendapat kesempatan cuti di awal puasa. Berbeda dengan tahun ini, semua pegawai di kantor umi mendapatkan jatah libur awal puasa selama satu minggu.

Kabar baik ini membuat Hamdan girang sekali. Tanpa disuruh Umi dan abahnya, Hamdan mengemasi pakaian dan peralatan mandi yang akan dibawanya ke rumah nenek. Ia sampai lupa kalau sikat giginya masih harus dipakai sebelum berangkat. Hal ini tentu saja membuatnya harus membongkar kembali ransel untuk mengeluarkan sikat gigi berwarna biru dan bergambar monster dinosaurus miliknya.

“Umi! Nanti kita nyeberang ke Madura naik kapal laut aja, ya! Jangan lewat jembatan Suramadu! Kita kan belum pernah naik kapal laut,” rayu Hamdan sehari sebelum keberangkatannya ke pulau garam itu.

“Iya! Sudah lama juga Bah kita tidak naik kapal laut,” tandas umi.

”Yeay! Berarti kita jadi naik kapal laut ya, Bah.. Mi…?”

“Iya! Boleh! Asal cuaca dan gelombang lautnya sedang baik.”

“Memangnya kalau tidak baik kenapa, Mi?” Hamdan bertanya penasaran.

“Kalau gelombang dan cuaca buruk, biasanya kapal-kapal tidak jadi berlayar karena sangat membahayakan penumpang. Tapi, cuaca akhir-akhir ini sepertinya sedang baik. Semoga kita bisa naik kapal, ya!” Umi menjawab sembari menatap mata Hamdan lekat-lekat.

Mendengar penjelasan umi, sejenak kemudian Hamdan berlari menuju gudang di sebelah kamar. Ia meraih dan mengempiskan pelampung renangnya. Lalu, menjejalkannya ke dalam tas. Abah melirik tingkah Hamdan sambil tersenyum.

Sesaat setelah rampung berjemaah subuh, Hamdan dan keluarganya berangkat menuju pelabuhan Kamal untuk menyeberang ke pulau Madura. Ia memakai kaus lurik berwarna merah dan putih pemberian nenek tahun lalu. Ransel berwarna senada ia dekap rapat di pangkuannya agar semua barang berharga di dalamnya tidak berpindah tangan. Padahal, keluarga Hamdan menggunakan mobil pribadi dalam perjalanan ke Madura kali ini. Abah sampai geleng-geleng kepala melihat tingkah Hamdan yang lucu itu.

Setelah lima jam, Hamdan sekeluarga sampai di pelabuhan Kamal. Mereka senang sekali karena tak perlu waktu lama untuk mendapatkan tiket kapal feri menuju Madura. Abah pun memarkir mobil di buritan agar dapat segera mengajak Hamdan dan umi menikmati keindahan pemandangan dari geladak kapal di lantai dua. Semua barang mereka tinggalkan di mobil, kecuali ransel milik Hamdan.

“Dan! Ranselmu dibawa? Ditinggal di mobil aja! Nggak papa, kok!” tanya abah.

“Hamdan bawa saja, Bah! Banyak barang penting di ransel ini, termasuk pelampung untuk jaga-jaga.” Hamdan menjawab dengan serius pertanyaan abahnya.

Akhirnya, abah, umi, dan Hamdan pun berjalan menyusuri tangga ke arah geladak kapal. Beberapa menit setelah mendapat tempat untuk menyandarkan punggung, kapal pun berlayar perlahan. Hamdan berdecak kagum melihat hamparan air yang menjadi jembatan menuju tujuannya. Ia melambaikan tangan pada daratan pelabuhan Kamal yang kian lama tampak kian mengecil tersebab jarak. Saking girangnya, Hamdan lupa mengencangkan pegangannya pada ransel yang sedari tadi didekap. Ransel itu pun tergelincir dan nyaris jatuh ke laut. Untung saja tali ransel terkait pada besi pagar pembatas di geladak kapal.

Hamdan mendadak tegang. Angin laut yang menyapu geladak kapal tidak bisa mengeringkan keringat yang tiba-tiba saja mengucur deras dari seluruh pori-pori tubuhnya. Ia memberanikan diri untuk meraih ransel yang menggelantung, tapi jari-jari kecilnya tidak bisa menyentuh tas yang berisi berbagai peralatan itu. ia bahkan nyaris terpeleset. Beruntung sekali, sebuah lengan kekar memegangi tubuhnya hingga tak jadi terjatuh ke laut. Ternyata itu adalah lengan si abah.

Hamdan pun tersenyum. Namun, tak lama kemudian, ombak yang cukup besar menghantam kapal. Ransel Hamdan yang menggelantung di pagar pembatas geladak kemudian terhempas jatuh ke lautan. Hmdan hanya bisa melongo melihatnya.

“Sudah! Nggak papa! Yang penting Hamdan selamat, ya!” Abah mengelus kepala Hamdan yang masih terpaku karena kejadian itu.

“Iya, Bah! Hamdan menyesal tadi tidak megikuti nasihat Abah untuk meletakkan ransel di mobil.” Hamdan tertunduk.

“Nggak papa! Barang-barang masih bisa dibeli lagi, tapi keselamatanlah yang harus diutamakan.” Abah kembali menasihati Hamdan.

Mereka pun kemudian masuk dan duduk di kursi penumpang. Kini, Hamdan tahu bahwa berlebihan mempersiapkan sesuatu justru akan berakibat buruk.

4 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *