Kaki Kiki Kaku
Cerpen Spesial Ramadan
Oleh: Rizka Amaliah
Ayah Kiki sedang memperbaiki jam dinding. Ia turut mengamati dari kejauhan.
“Ayah! Bagaimana cara muter jarum jamnya?”
“Astaghfirullah! Ayah sampai kaget. Kok Kiki tiba-tiba udah di sini aja?” Hampir saja jam dinding sebesar piring itu melompat dari tangan ayah Kiki.
“Ayah nggak tahu kalau Kiki mendekat?” Sang ayah menggeleng.
“Hihihi! Berarti Kiki hebat!” Gadis cilik itu cekikikan.
“Jadi, kita bisa mempercepat atau memperlambat waktu ya, Yah?” Kiki penasaran.
“Hmm! Bukan mempercepat atau memperlambat waktu, tapi kita bisa menggerakkan jarum jam sesuai kebutuhan. Nah! Sekarang ini Ayah sedang mencocokkan waktu di jam ini dengan waktu sebenarnya,” jelas Ayah sambil memandang wajah Kiki yang tampak serius.
“Waktu sebenarnya?” Kiki mengernyitkan dahi.
“Ya! Jam tangan ayah kan baru, nih! Sementara jam dinding kita sudah sangat tua dan lambat, karena baterainya belum diganti. Nah, sekarang Ayah sedang menggantinya. Lalu, mencocokkan waktu di jam tangan dan jam dinding.”
“Oh!”
Kiki menaikkan kepalanya. Ia makin penasaran, mengintip bagian mana yang diputar sang ayah untuk menggerakkan jarum jam.
“Ternyata gampang ya, Yah?”
“Iya! Gampang! Kiki mau coba?”
“Boleh?” Wajah Kiki tampak sumringah.
“Boleh, dong!”
Bocah itu kemudian mengutak atik tuas putar dan tertawa setelah jarum jam bergerak.
“Seru, Pa! Kiki suka!”
“Ya! Tapi, ini bukan mainan. Sudah, ya!”
Raut wajah Kiki menunjukkan bahwa ia sedang kecewa. Namun, bocah itu terus mengamati gerak-gerik sang ayah. Setelah rampung diperbaiki, jam dipasang di dinding. Ayah harus naik ke atas meja untuk melakukannya.
Kiki terus mengamati dengan teliti. Ia menghitung jarak.
“Sepertinya aku bisa meraih jam itu kalau menambahkan kursi di atas meja,” gumamnya.
***
Esok harinya, semua orang sibuk dengan tugas masing-masing. Kiki yang sedang libur karena para guru harus rapat di luar kota tampak santai menonton TV.
“Enaknya yang nggak sekolah!” Lya, Kakak Kiki mencibir sambil memasang kaus kaki.
Kiki menjulurkan lidahnya dan terus menonton TV. Ayah dan Lya pun berpamitan untuk berangkat ke sekolah. Setelah mengantar Lya, ayah kemudian berangkat ke kantor.
“Kok tumben jalanan agak sepi ya, Nduk? Biasanya jam antar sekolah ramai.” Ayah mengajak Lya berbincang di atas motor.
“Nggak tahu, Yah! Padahal kan masih jam 06.30.” Lya menimpali.
“Iya!”
***
Sepulang sekolah, Lya tampak bersungut-sungut masuk rumah. Ia mengempaskan tubuhnya ke sofa.
“Eh! Kenapa anak Ibu cemberut?” Sang Ibu mendekat.
“Tadi Lya terlambat sejam lebih, Bu! Dihukum, deh! Nguras dan bersihkan kamar mandi. Mana bau pesing banget.”
“Loh! Kok bisa? Ban motor ayah bocor?”
Belum sempat Lya menjawab. Sang ayah masuk dan menyela.
“Kok bisa ya, Bu? Padahal berangkat seperti biasa. Sampai kantor aku telat. Potong gaji deh!”
Di sudut sofa, Kiki tampak cekikikan menutup mulutnya. Semua orang sontak menoleh ke arah bocah itu.
“Prank…!” Kiki bersorak riang seperti bocah yang melihat badut ulang tahun.
“Ya Allah, Nak!”
Ibu menggeleng. Tentu saja, setelah itu Kiki mendapat ceramah panjang dari ibu dan ayah. Lya yang kesal memilih masuk ke kamar dan mengunci pintu.
Kiki memang suka usil. Kadang ia mengerjai kakaknya. Ia mengatakan bahwa ibu menyuruh sang kakak membeli sesuatu. Padahal, yang diminta berangkat adalah dirinya sendiri.
***
Tepat hari Minggu, Kiki bermain di halaman. Ia duduk selonjor di bawah pohon mangga. Setelah cukup lama bermain, Kiki berteriak.
“Kakak! Kakak!”
Ia memanggil kakaknya berulang-ulang sebab ayah dan ibu sedang keluar. Lya pun menghampirinya.
“Kenapa teriak-teriak?”
“Huhuhu! Kakiku kram, Kak. Nggak bisa bergerak!” jawabnya memelas.
“Ih! Bohong, ah! Nggak percaya! Kiki kan suka bohong.”
Lya mengira Kiki sedang berakting. Ia meninggalkan bocah itu sendirian dan kembali masuk ke kamarnya untuk menulis di buku diari. Kiki yang kesakitan menangis tersedu-sedu. Hampir setengah jam hingga akhirnya ayah dan ibu datang.
“Lho! Kiki kenapa? Kok nangis?”
“Kaki Kiki kram, Bu.. Yah!” Bocah itu terus terisak.
“Kakak mana?” tanya ayah.
“Kakak di dalam. Kakak nggak percaya kalau Kiki kram.”
Ayah mengusap lembut kaki Kiki. Perlahan ayah memijat dan menekan bagian tertentu. Kiki memang sering kram. Namun, baru kali ini tak langsung ditangani.
“Kak! Kenapa Kiki nggak dibantu waktu kram tadi?” tanya Ayah saat sudah di dalam.
“Ya, Lya pikir Kiki cuma pura-pura, Yah! Ternyata beneran?” Ada rasa bersalah terpancar di matanya.
Ibu dan ayah mengangguk. Lya menghampiri Kiki dan memeluknya.
“Maafin Kakak, ya!” tuturnya lembut.
Mendengar itu, tangis Kiki makin nyaring. Entahlah! Mungkin ia terharu atau menyesal. Tapi, mungkin juga kesal. Karena beberapa hari kemudian, penyakit usilnya kambuh lagi.
